Sejarah PSSI ( Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia )

Berita / 3 July, 2020

PSSI  (Persatuan Sepakbola seluruh Indonesia) yadalah Badan Pengurus sepak bola di Indonesia. Didirikan pada 19 April 1930, lima belas tahun sebelum kemerdekaan Indonesia. PSSI bergabung dengan Konfederasi sepak bola Asia pada 1954 dan FIFA pada 1952.

PSSI didirikan oleh Soeratin Sosrosoegondo, lulusan dari Harvard dan kembali ke Indonesia pada 1928. Ia menjadi orang Indonesia pertama yang bekerja di perusahaannya, sebuah perusahaan Belanda di Yogyakarta. Dia kemudian mengundurkan diri dari perusahaan dan menjadi lebih aktif dalam gerakan revolusioner.

Untuk mencapai misinya, Soeratin mengadakan banyak pertemuan dengan para pemain sepak bola profesional Indonesia, terutama melalui kontak pribadi karena mereka ingin menghindari polisi Belanda. Kemudian, pada pertemuan yang diadakan di Jakarta dengan Soeratin, kepala Voetbalbond Indonesische Jakarta (VIJ), dan pemain lainnya, grup ini memutuskan untuk mendirikan sebuah organisasi sepak bola nasional. Pada tanggal 19 April 1930, hampir semua organisasi non-nasional, seperti VIJ Jakarta, BIVB Bandung, Perserikatan melalui Mataram (PSM), IVBM Magelang, VVB Solo, MVB Madiun, dan SIVB Surabaya berkumpul di pertemuan final dan mendirikan persatoean sepak raga seloeroeh Indonesia (Persatuan sepak bola Indonesia atau PSSI) dengan Soeratin sebagai pemimpin pertama. samar

Dalam tahun PSSI sebelumnya, Sepakbola digunakan untuk melawan Belanda yang menguasai koloni dengan mengumpulkan semua pemain. [rujukan?] Pada 1936, ketika PSSI menjadi lebih kuat, NIVB diubah menjadi Nederlandsh Indische Voetbal Unie (NIVU, artinya “Persatuan Sepakbola Hindia Belanda “) dan kerjasama dengan Belanda dimulai. Pada 1938, dengan “tim nasional Hindia Belanda” sebagai nama mereka, NIVU mengirim tim mereka ke Piala Dunia FIFA 1938 di Perancis. Pada saat itu, sebagian besar pemain datang dari NIVU bukan PSSI, dan ada Sembilan Pemain asal Cina. Sebagai hasilnya, Soeratin mengungkapkan protes karena ia ingin pertandingan antara NIVU dan PSSI sebelum Piala Dunia FIFA. Selain itu, ia juga malu karena bendera yang digunakan pada pertandingan Piala Dunia yang melibatkan Hindia Belanda adalah bendera Belanda. Soeratin kemudian membatalkan perjanjian dengan NIVU di Kongres PSSI tahun 1939 di Solo.